hari Asyura

| |times read : 66
hari Asyura
  • Post on Facebook
  • Share on WhatsApp
  • Share on Telegram
  • Twitter
  • Tumblr
  • Share on Pinterest
  • Share on Instagram
  • pdf
  • Print version
  • save

1.   Umur yang penuh berkah bagi pemimpin para syuhada (as)

Apa bila kita berinteraksi sehari saja dengan kehidupan mulia imam Husein as, dan hari tersebut adalah hari Asyura’, maka kesimpulan yang kita peroleh darinya adalah mendapatkan hasil yang sangat agung. Dan  efek yang penuh berkah tersebut disaksikan oleh seluruh dunia. Maka apa yang hendak engkau lakukan jika membaca (perjalanan hidup imam Husein as) dari berbagai referensi selama 57 tahun dari usia beliau?

2.   Tugas dan kewajiban Imam Husein as dalam melakukan perbaikan

Syariat agama Islam adalah penutup syariat-syariat ilahi. Dan untuk menyempurnakan syariat tersebut tidak cukup hanya dengan memperbaiki cara pandang beragama saja, akan tetapi kesempurnaan syariat agama Islam mencakup seluruh hukum, seluruh kebutuhan serta seluruh lini kehidupan masyarakat. Imam Husein as adalah pewaris para Nabi dan pelanjut risalah mereka, olehnya berdasarakan tugas suci yang konfrehensip tersebut, dan juga tertuang dalam sabda-sabda beliau yang mulia, menjadi acuan dalam menjalankan tugas suci pada semua bidang tersebut.

Adapun perkataan beliau tentang memperbaiki agama, beliau bersabda: Sesungguhnya aku tidak bangkit untuk kepentingan pribadi dan karena hawa nafsu. Tidak juga untuk melakukan kerusakan. Saya melakukan ini demi memperbaiki umat kakekku. Saya ingin melakukan perintah amar makruf dan nahi munkar. Saya ingin mengikuti teladan dari perilaku kakek dan ayahku, Ali bin Abi Thalib as”.

Adapun perkataan beliau tentang memperbaiki aturan dan undang-undang, beliau bersabda: “Dan saya mengajak kalian kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya, karena sesungguhnya sunnah Nabi telah mati dan bid’ah telah dihidupkan, jika kalian mendengarkanku dan mematuhi perintahku, maka aku akan membimbing kalian ke jalan yang benar”.

Dengan kata lain, para tiran ini telah menghalangi konstitusi dan hukum, oleh karena itu imam Husein (as) menyeru mereka untuk kembali ke konstitusi - yaitu al-Qur'an - dan hukum yang ditetapkan olehNya - yang merupakan sunnah yang mulia.

Di bidang rekonstruksi politik dan penyampaian kualitas orang-orang yang berhak atas imamah, kepemimpinan, dan amanah bangsa, beliau berkata: “sumpah demi jiwaku, Imam tidak lain adalah orang yang benar-benar mengamalkan kandungan al-Quran, dan menegakkan keadilan, serta menegakkan kebenaran dan ia sendiri telah menerima kebenaran dan berkomitmen pada agama kebenaran. ia tidak berkata, melakukan atau memerintahkan kecuali dalam batas ketaatan kepada Allah swt”.

Imam Husein as juga menjelaskan tentang sebab terjadinya korupsi dan kerusakan ekonomi serta rusaknya tatanan sosial, moral dan agama, serta rusaknya supremasi hukum dan keadilan, semua itu dikarenakan pemimpin yang tidak memiliki legitimasi syar’i.

Menganai urusan rakyat, beliau (as) berkata, {setelah semua elemen bangsa menganggapnya bertanggung jawab atas perubahan}:

(“Barang siapa yang menyaksikan penguasa dzolim menghalalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa-apa yang dihalalkan oleh Allah serta melanggar perjanjian ilahi serta menentang Sunnah Rasulullah (saw) dan juga menyaksikan penguasa tersebut berlaku dzolim dan kejam terhadap masyarakat, akan tetapi ia tidak melakukan perubahan baik dengan tangannya ataupun dengan perkataannya, maka Allah berhak memasukannya kedalam neraka jahannam bersama penguasa keji tersebut”.)

Tentang analisa politiknya beliau (as) berkata: “Sebagaimana kalian ketahui bahwa kelompok ini (Yazid bin Muawiyah Pen) telah mentaati Syaiton dan telah berpaling dari ketaatan kepada Allah yang maha pengasih, dan mereka telah melakukan dosa dan kedzoliman secara terang-terangan, dan tidak lagi menjalankan hukum-hukum Allah serta menganggap harta benda orang lain sebagai harta milik mereka dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa-apa yang yang dihalalkan oleh Allah, dan hari ini saya berikrar bahwa, saya lebih pantas menjadi pemimpin karena kedekatannku dengan Rasulullah saw”.

Dalam  riwayat lain dijelaskan, (“aku lebih pantas menjadi penolong Allah dan memuliakan syariatNya serta  berjuang di jalan-Nya hingga firman Allah menjadi yang paling tinggi.”)[1]  

3.   Keabadian kemenangan imam Husein (as)

Ketika Imam Husein as menyeru pada hari Asyura’ dengan seruan “hal min nashirin yanshuruni” (adakah penolong yang mau menolongku?) Sesungguhnya seruan tersebut tidak ditujukan kepada para tiran yang Allah telah menutup hati mereka dari hidayah dan kebaikan. Melainkan Sebaliknya, beliau ingin itu tetap menjadi seruan nyaring untuk semua generasi, selama berabad-abad Untuk mendukungnya dalam mencapai tujuannya, dan seruan tersebut akan selalu menggema selama kedzoliman dan kerusakan tetap ada yang mana tujuan kebangkitan Imam Husein untuk menumpas dan merubah kedzoliman tersebut menjadi baik. Olehnya tolonglah beliau sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing dengan perbuatan yang bisa dilakukan apapun bentuk perbuatan tersebut. Sebagian orang menerima beberapa bentuk pelaksanaan majelis duka untuk imam husein as dan sebagian lainnya tidak menerima bentuk pelaksanaan majelis duka tersebut karena mereka tidak menginginkan bentuk pelaksanaan seperti itu, olehnya perhatikannlan hal tersebut.

4.   Kemenangan sejati Imam Hussein

Dengan mewujudkan prinsip-prinsip revolusi imam Husein as dan mencapai tujuannya, maka seruan imam Husein “hal min nashirin yanshuruni” (adakah penolong yang menolongku) akan selalu menggema di muka bumi ini, Dan beliau as tidak mencari pendukung dengan pedang dan sejenisnya karena Allah telah menghendaki kesyahidan beliau dan keluarganya (as) sebaliknya beliau meminta kepada para penolong dan pengikutnya untuk membantunya dalam menyelesaikan tugasnya dan menyempurnakan tujuannya dalam memperbaiki ummat kakeknya serta menegakkan amar makruf dan nahi munkar, dan berdiri melawan pemimpin yang dzolim dan membebaskan manusia dari kejahatan tirani dan syaithon dari kalangan jin dan manusia.

5.   Bagaimaman kita bisa berada pada golongan mereka yang menyeru, (Ooh seandainya dulu kami bersamamu)?

Kita semua menyeru Imam Hussein (as) dan sahabatnya dengan lidah dan hati nurani kita dengan seruan “ya laitana kunna ma’akum fanafuzu fauzan adzima” (oh seandainya kami bersama kalian dan kita akan meraih kemenagan yang besar dan agung) dan sayang sekali kita tidak bersama generasi yang hidup di masa para maksumin (as). Dan merasa terhormat bertemu dengan mereka dan meraih kemenangan bersama mereka serta meneguk cawan syahadah di tengah-tengan mereka. Dan kita yakin bahwa Allah swt memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh hambaNya dalam mendekatkan diri padaNya, dan apakah Tuhan Yang Mahakuasa mencintai generasi tersebut atas kesempatan ini dan mencegah kita darinya? Hal ini bertentangan dengan fakta yang kita saksikan saat ini. Jadi, apa peluang kita yang cocok untuk saat ini? Sesungguhnya peluang tersebut adalah menegakkan kewajiban melakukan amar makruf dan nahi munkar. Sebagaimana sabda Amirul Mukminin as “tidak ada satupun perbuatan baik, bahkan jihad di jalan Allah sekalipun, bila dibandingkan dengan amar makruf dan nahi munkar bagaikan sebuah jet di laut yang luas”. Maksudnya adalah melakukan amar makruf dan nahi munkar pahalanya jauh lebih besar dari seluruh kebaikan bahkan jihad di jalan Allah.

 



[1] Sumber: Qabasat min Nuril Qur’an- al qabs 58