Mendirikan syiar-syiar Husaini di masa pandemi

| |times read : 41
Mendirikan syiar-syiar Husaini di masa pandemi
  • Post on Facebook
  • Share on WhatsApp
  • Share on Telegram
  • Twitter
  • Tumblr
  • Share on Pinterest
  • Share on Instagram
  • pdf
  • Print version
  • save

Bismihi Ta'ala

Mendirikan syiar-syiar Husaini di masa pandemi

Tidak ada keraguan bahwa pelaksanaan syiar-syiar Husaini adalah salah satu syiar keagamaan yang paling agung, dan syiar tersebut setara dengan keberkahan dan pengaruhnya dalam menjaga agama yang benar dan menegaskannya di hati orang-orang mukmin, dan mengajak umat manusia kepada Allah adalah syiar yang paling agung.

Oleh karena itu, menegakkan dan memperhatikannya adalah salah satu manifestasi yang paling jelas dari firman Allah swt (Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya tindakan ini adalah sebagian dari tanda ketakwaan hati) (Al-Hajj: 32).

Namun, penyebaran pandemi di seluruh dunia yang menjangkiti jutaan orang, bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganggapnya sebagai pandemi yang mebinasakan sehingga wajib bagi kita secara rasional dan syar’i mematuhi protokoler kesehatan yang dengannya dapat melindungi diri kita dan orang lain dari penyebaran pandemi tersebut. Dengan itu maka wajib bagi para mukmin untuk mematuhi protokoler kesehatan seperti menjaga jarak, memakai masker, senantiasa mensterilkan tempat dan dan menjaga kebersihan tangan setelah bersentuhan dengan orang lain, serta menahan diri dari kerumunan orang banyak dan menjaga jarak apa bila berada di majelis-majelis husaini dan majelis keagamaan lainnya.

Jika mampu menyediakan alat tes, maka sebaiknya melakukan tes dan analisis sehingga dapat dipastikan kesehatan seseorang dengan sertifikat yang dibenarkan sebagaimana disyaratkan untuk masuk ke setiap tempat umum mana pun.

Jika  mereka tidak dapat menjamin dirinya untuk mengikuti prosedur yang ada, maka dianjurkan untuk membatasi diri mereka menyelenggarakan syi’ar husaini di rumah saja dengan menghadirkan seluruh anggota keluarga dan mendengarkan ceramah dari para penceramah yang banyak disiarkan di media sosial, maupun elektronik dengan berkah Allah swt.

Hendaklah mereka rutin membaca ziarah asyura’ setiap hari karena sesungguhnya khasiat dari membaca ziarah asyura’ dapat menolak bala’ dan bencana serta dapat mengabulkan hajat-hajat dan dapat menyelesaikan problimatika kehidupan yang kita alami dan juga akan dapat meraih syafaat para maksumin (as) di akhirat kelak.

Kita juga jangan sampai lupa untuk mengingat penderitaan Al-Husain as dan meneruskan perjuangannya dengan menegakkan syiarnya seperti mendonorkan darah kita, menyumbangkan plasma darah bagi mereka yang pulih dari virus Corona, mengunjungi korban yang dikarantina di rumah mereka, mengantarkan tabung oksigen kepada mereka yang sedang dirawat di rumah sakit, memberikan obat-obatan yang diperlukan atau membawakan hadiah untuk anak-anak yatim piatu, menghibur mereka yang berduka,  menolong mereka yang membutuhkan dengan senantiasa menjaga martabat dan kehormatan mereka yang semua itu dilakukan atas nama Imam Hussein as serta membagikan selebaran dan pampflet yang bertuliskan kutipan hadits Imam Hussein (as) dalam rangka menerangi dan menghidayahi umat manusia melalui bimbingan dan kebenaran, atau bisa juga menampilkan filim kartun yang menyinggung fenomena sosial yang menyimpang dan memuji citra positif dan tindakan mulia untuk menggambarkan tujuan kebangkitan dan kesyahidan Imam Hussein (as), yang merupakan sosok penegak amar ma’ruf dan nahi munkar.

Masyarakat Irak memiliki pengalaman menarik dan membuktikan bahwa dengan berpegang pada petunjuk-petunjuk syariat dan mematuhi protokoler kesehatan pada awal munculnya virus corona di awal bulan Rajab lalu, penularannya sangat sedikit dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga irak terhadap seluruh dunia, bahkan organisasi internasional keheranan dan mempertanyakan rahasia tentang tidak adanya penyebaran pandemi di Irak meskipun dikelilingi oleh negara-negara yang terdampak covid 19, dan situasi ini berlanjut selama tiga bulan hingga pecahnya wabah pandei pada Idul Fitri, sehingga jumlah korban yang terjangkit melonjak ke kisaran yang berbahaya, dan Irak tidak mampu menghadapi situasi tersebut karena terlalu banyak masyarakat yang tertular.

Kita senantiasa memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk menjauhkan bahaya dan kejahatan dari kita semua, serta memberikan kita kesehatan dan kebaikan dalam semua masalah, serta memberikan kita kesuksesan dalam mentaati dan mematuhi-Nya serta mendapatkan keridhaan-Nya. Dan Dialah sebaik-baik  pemberi nikmat.

 Mohammad Al-Yaqoubi

19 / Dzulhijjah / 1441

9/8/2020