Manfaat Pengulangan Kisah-kisah dalam Al-Quran

| |times read : 12
  • Post on Facebook
  • Share on WhatsApp
  • Share on Telegram
  • Twitter
  • Tumblr
  • Share on Pinterest
  • Share on Instagram
  • pdf
  • Print version
  • save

Manfaat Pengulangan Kisah-kisah dalam Al-Quran

7. Mengulang dan melanjutkan dosis pengobatan, tidak menghentikan pengobatan hanya dalam sekali untuk memperbaiki keadaan yang tidak normal atau untuk menutupi kekurangan atau kecacatan yang ada dalam pikiran, kepercayaan dan perbuatan sebuah umat. Misalnya, Anda menemukan kisah-kisah dari beberapa nabi yang telah diulang lebih dari sepuluh kali, dan setiap pengulangannya memiliki selera, efek, dan perannya sendiri dalam mencapai tujuan dan meninggalkan kesan selain yang ditinggalkan oleh yang lainnya, walaupun semuanya memiliki isi dan makna yang sama.

          Ketika kita ingin membahas masalah wanita-wanita yang memamerkan keindahan dan auratnya di hadapan pria, yang disebut sebgai perilaku syaitan yang dapat mencegah manusia dari mengingat dan taat kepada Allah swt, sebagai manifestasi dari janji iblis yang terekam dalam Al-Quran,

}لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ، ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ{ (الأعراف: 16 - 17)

“…saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depana dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”(QS. Al-A’raf: 16-17).

Para wanita ini, menggunakan berbagai macam cara dan metode untuk merayu pria agar jatuh dalam kemaksiatan. Dari memamerkan auratnya di jalanan, melakukan gerakan-gerakan yang lembut mempesona di dalam unversitas, mempertontonkan keindahan tubuhnya, olahraga, hingga adegan-adengan telanjang dalam sebuah seni.

          Jika kita ingin menhilangkan penyakit berbahaya ini dari masyarakat, kita dapat menemukan jalan keluarnya dalam sebuah buku tentang fenomena sosial yang menyimpang, sebuah buku tentang masalah-masalah wanita, sebuah buku tentang dampak olahraga dan seni dalam menghancurkan etika masyarakat, sebuah buku tentang masalah, keprihatinan, dan aspirasi mahasiswa, sebuah buku dengan isi yang sama tentang pemuda dan sebuah buku tentang fiqih keluarga yang mencakup hubungan keluarga dan sosial sesuai dengan ajaran syariat dan buku-buku yang lain. Karena masalah serius ini masuk dalam semua pembahasan tersebut, membahas masalah ini dalam pembahasan yang berbeda-beda dapat memberikan gambaran dan pola yang berbeda dalam satu pembahasan dengan yang lainnya. Minimal permasalahan-permasalahan yang dibahas dalam buku-buku tersebut dapat menghasilkan sebuah gambaran yang sempurna yang diambil dari seluruh sisi[1].

8. Melakukan berbagai cara untuk membimbing umat manusia yang memiliki tiga unsur, jiwa, akal dan hati. Yang mana dapat kita jumpai orang-orang yang menggunakan ketiganya untuk taat kepada perintah Allah swt, sebagaimana yang telah dijelaskan secara rinci di beberpa pelajaran (Mari kita kembali ke Al-Quran).

Anda juga akan menemukan banyak orang yang menggunakan fitrahnya, sebagaimana beberapa hadis yang menjelaskan alasan turunnya Al-Quran (untuk merangsang bagian terdalam fitrah manusia). Hati nurani adalah bukti yang paling jelas dan yang paling benar, hal ini sudah tidak dipertentangkan lagi. Mari kita dengar bagaimana Allah swt mengajak fitrah berbicara untuk membuktikan adanya sang Pencipta:

}أَفَرَأَيْتُم مَّا تُمْنُونَ، أَأَنتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ{(الواقعة: 58-59)

}أَفَرَأَيْتُم مَّا تَحْرُثُونَ، أَأَنتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ{ (الواقعة: 63-64)

 }أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاء الَّذِي تَشْرَبُونَ، أَأَنتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ{ (الواقعة: 68-69)

}أَفَرَأَيْتُمُ النَّارَ الَّتِي تُورُونَ، أَأَنتُمْ أَنشَأْتُمْ شَجَرَتَهَا أَمْ نَحْنُ الْمُنشِؤُونَ{(الواقعة: 71 - 72)

           

Maka adakah kamu perhatikan, tentang (benih manusia) yang kamu pancarkan.  Kamukah yang menciptakannya, ataukah Kami penciptanya?.” (QS. Al-Waqiah: 58-59)

“Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam?. Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan?.” (QS. Al-Waqiah: 63-64)

“Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?.  Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?.” (QS. Al-Waqiah: 68-69)

“Maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan (dengan kayu)?. Kamukah yang menumbuhkan kayu itu ataukah Kami yang menumbuhkan?.” (QS. Al-Waqiah: 71-72).

Atau firman Allah swt yang mengecam para pendosa:

}هَلْ جَزَاء الإِحْسَانِ إِلا الإِحْسَانُ{ (الرحمن: 60)

Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 71-72).

Padahal kamu bergelimang dalam kenikmatan yang diberikan Allah swt:

}وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا{(إبراهيم: 34)

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 71-72).



[1] Dengan taufik Allah swt, tulisan-tulisan dan artikel yang memuat seluruh pembahasan ini telah dicetak