Komentar Mengenai Kejadian Gelombang Tsunami

| |times read : 47
  • Post on Facebook
  • Share on WhatsApp
  • Share on Telegram
  • Twitter
  • Tumblr
  • Share on Pinterest
  • Share on Instagram
  • pdf
  • Print version
  • save

Komentar Mengenai Kejadian  Gelombang Tsunami

Yang mulia syekh pada hari Sabtu  tangal 19 Dzulhijjah bertemu dengan sekelompok orang yang berasal dari kota Nahrawan yang merupakan anggota dari Kantor Budaya milik sekelompok orang terkemuka di kota itu. Di pertemuan itu beliau berbicara tentang kedudukan historis daerah tersebut karena dimuliakan dengan injakan kaki Amirul Mu’minin as ketika beliau pergi untuk berperang dengan Khawarij. Dan disana terdapat kubur sang syahid yang termuduh dalam keadaan terzalimi, seorang hamba Allah dan termasuk dari sahabat yang mulia yang disiksa dijalan Allah Habbab ibn Irit gubernurnya Amirul Mu’minin as di daerah itu.

Yang mulia syekh juga mengomentari kejadian gempa yang terjadi di dasar laut dekat pulau Sumatra, Indonesia yang menyebabkan gelombang tsunami yang  mengenai beberapa pulau di beberapa negara, dan efeknya  sampai lebih dari 6000 Km, dimana berpuluh-puluh orang meninggal dunia  di Somalia dan Kenya.

Beliau menukil sebuah perkataan yang di katakan salah seorang turis yang berasal dari Jerman yang menjadi korban sebuah bencana di Thailand bahwa dia menyaksikan sendiri kemarahan alam dan juga laut yang bergelombang. Dan dia mengajak negara-negara besar untuk tidak membuah alam murka. Beliau mengomentari jika kita biar kalimat ini ditempatnya maka kalimat ini adalah sebagai pelajaran yang benar. Karena buruknya perbuatan manusia terhadap alam  dengan melakukan percobaan nuklir, pencemaran lingkungan dan pemanasan  global menyebabkan rusaknya keseimbangan lingkungan yang pada akhirnya menyebabkan  peristiwa-peristiwa ini, dimana manusialah yang menjadi korban pertamanya.

Beliau menambahkan bahwa jika kita memahami perkataan turis ini dengan makna hakikinya yaitu bahwa manusia setiap kali dia menyeleweng dari pencipatanya dan tidak mematuhi syariatnya maka hukum alam akan  berjalan dengan menentangnya. Adapun sebaliknya jika, jika dia taat kepada Allah dan syariatnya maka yang akan terjadi sesuai firman Allah :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan  kepada mereka berkah dari langit dan bumi(Al A’raaf:96)

Yang mulia syekh juga menambahkan bawah pernyataan seperti ini tidak pantas untuk kita sampaikan sekarang ini. karena sikap yang dituntut untuk sekarang adalah bantuan bagi orang yang terkena musibah ini. adapun perkataan seperti ini hanya akan menambah kesedihan mereka. Akan tetapi, setelah keadaan telah pulih. Maka kita harus berbenah untuk masa yang akan datang untuk mengambil pelajaran dan meluruskan kesalahan yang telah lalu. Statistik mencacat bahwa 8000 turis asing yang kebanyakan berasal dari Amerika dan Swedia dinyatakan hilang dalam kejadian tersebut. yang pastinya merekalah yang melakukan perbuatan keji dan kemaskiatan. Adapun bantuan dari penduduk sekitar menajadi sebab turunnya bencana tersebut.[1]



[1] Dalam pertemuan yang mulia Ayatullah syekh Muhammad Ya’qubi dengan dengan kelompok pemuda dari kota Nahrawan yang di publikasikan di halaman ke 2 dari 12 halaman dari majalah As Shodiqin yang terbit pada tanggal 2 Dzulhijjah bertepatan dengan 13  Januari  2015.