Marja‘ Ya‘qubi : Janji Tuhan Tentang Kepemimpinan Dan Kedaulatan

| |times read : 13
Marja‘ Ya‘qubi : Janji Tuhan Tentang Kepemimpinan Dan Kedaulatan
  • Post on Facebook
  • Share on WhatsApp
  • Share on Telegram
  • Twitter
  • Tumblr
  • Share on Pinterest
  • Share on Instagram
  • pdf
  • Print version
  • save

 

Dengan Nama-Nya Yang Maha Luhur

 

Marja‘ Ya‘qubi : Janji Tuhan Tentang Kepemimpinan Dan Kedaulatan

 

Marja‘ dīni Syeikh Muhammad Ya‘qubi (dāma żilluh) mengharapkan kepada umat  seluruhnya untuk selalu dalam keadaan bersabar dan penuh pengharapan, meskipun terdapat ancaman dan bahaya yang selalu mengintai dan adanya berbagai tantangan besar yang harus dihadapi. Allah Swt  telah menjanjikan kepada mereka semua dengan kemenangan dan kejayaan di masa depan, dengan syarat mereka terus bekerja dengan tulus dan bijak. Syeikh Ya‘qubi menganggap bahwa salah satu sumber yang bisa membangkitkan harapan dan optimisme adalah keberhasilan dari operasi pertempuran yang diperjuangkan oleh angkatan bersenjata Irak di seluruh cabang-cabangnya, dan juga perjuangan kepahlawanan Hasyd Sya‘bi yang didukung oleh para pendukung logistik, terutama dalam pertempuran baru-baru ini di Mosul, di mana para pemimpin tentara dari negara yang paling kuat sekalipun di masa kini mengakui bahwa pertempuran ini sangat sulit untuk bisa berhasil bagi pasukan mana pun di dunia, keberhasilan ini dikarenakan peperangan yang disertai dengan ketulusan, kemuliaan, dan ketinggian moralitas, serta pengorbanan bagi seluruh umat manusia  tanpa melihat agama, kelompok dan kaum apapun.

Dalam pidato tahunannya kepada puluhan ribu orang yang tiba di kota suci Najaf Asyraf pada peringatan wafatnya Sayyidah Fatima Zahra sa, Syeikh Ya‘qubi memuji umat karena telah tumbuh pada mereka kesadaran, dan kebangkitan, serta kepedulian terhadap adanya berbagai tantangan dalam menempuh perjalanan dan pemenuhan kebutuhan hidupnya. Beliau menekankan perlunya menghindari semua yang menghalangi gerakan yang diberkati ini, seperti pelanggaran terhadap aturan, terjebak dalam perselisihan dan perpecahan umat, konflik yang merusak, mengikuti jalan kebatilan, terseret pada panggilan hawa nafsu dan godaan yang akan menghalangi gerakan yang diberkati ini menuju integrasi umat. Beliau juga memberikan informasi penting mengenai keberadaan makar musuh yang jahat ditengah-tengah masyarakat dan memperingatkan pula akan bahaya makar tersebut, sebab menurut beliau musuh itu berjumlah banyak dan sangat berbahaya serta kompleks jaringannya, tetapi bagi seorang pemimpin yang bijak dan bagi orang-orang yang memiliki wawasan yang cukup, makar musuh apapun akan sangat mudah terdeteksi dan tidak bisa tersembunyi dihadapan mereka.

 

Berikut teks lengkap khutbah beliau :

 

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

[Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi]

Janji Tuhan Tentang Kepemimpinan Dan Kedaulatan

Allah Swt berfitman : [Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.](An-Nur :55)

Orang-orang mukmin dalam kehidupan mereka selalu mendapatkan tekanan yang bermacam-macam dari pihak-pihak musuh mereka, begitu pula merela selalu berhadapan dengan tantangan dalam ranah pemikiran dan keyakinan. Tekanan-tekanan tersebut bisa berupa kasus pembunuhan, pengusiran, pemenjaraan dan ancaman terorisme, bahkan mungkin pula bisa berupa permasalahan sosial kemasyarakatan, penyimpangan moral dan syubhat-syubhat aqidah dan bisa juga  berupa kekurangan bahan pangan dan kelaparan, embargo ekonomi dan perampasan hak-hak asasi manusia untuk kehidupan yang bebas, layak dan selainnya.

Musuh dan lawan tidak akan pernah menghentikan praktik-praktik jahat tersebut  yang mana mereka mengambil banyak bentuk pola praktik-praktik itu mulai dari cara yang kuat, keras sampai pada cara yang lembut dan  tersembunyi, dan mereka lakukan hanya untuk menguasai orang-orang mukmin, mendominasi mereka,  memisahkan diri orang mukmin dari aqidah dan moral mereka, dan menggagalkan usaha perbaikan kehidupan mereka, serta merusak  identitas mereka sebagai seorang mukmin dengan cara menyebarkan konsep globalisasi yang sering mereka bicarakan pada masa kini. Allah Swt berfirman : [Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup ](Al-Baqarah:217), begitu juga Dia berfirman : [Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. ](Al-Baqarah:120). Musuh melakukan segala praktik-praktik tersebut dikarenakan keegoisan, kesombongan, cinta dunia, mengikuti hawa nafsu dan kedengkian mereka terhadap orang-orang mukmin atas kesucian dari segala keburukan dan dosa, Allah Swt berfirman : [Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka.](Al-Baqarah: 109).

Mereka yang membantu musuh-musuh eksternal dalam mengimplementasikan rencana mereka adalah sejumlah orang-orang dari dalam komunitas muslim sendiri , yakni orang-orang munafik, bodoh, jahil dan orang-orang pencari kenikmatan dunia semata serta budak dari godaan syahwat dan hawa nafsu.

Dalam kondisi dibawah tekanan ini, orang-orang mukmin hidup dalam keadaan susah, cemas, takut, dan kekhawatiran atas segala usaha untuk mereformasi dan memperbaikan kehidupan; maka datanglah Janji Ilahi itu yang mana telah disebutkan didalam ayat untuk meyakinkan orang-orang mukmin, mengembalikan kepercayaan diri, menanamkan optimisme dan harapan dalam hati mereka supaya iman mereka menjadi teguh dan kuat, serta melanjutkan misi hidup mereka. Tidak diragukan lagi bahwa Janji ini adalah benar dan akan segera teraktualisasi [Dan janji Allah itu benar. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? ](An-Nisa:122), [(Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetah](Ar-Rum:6), [Sungguh, Allah tidak menyalahi janji.](Ali Imran :9), (Ar-Ra'd:21).

Ya, terkadang hal ini membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai janji ilahi tersebut, bahkan untuk mencapai sebagiannya pun membutuhkan jenjang masa yang cukup, karena pembangunan masyarakat yang saleh membutuhkan upaya yang sungguh-sungguh, kerja keras dengan kesabaran dan ketahanan, dan kesinambungan, serta dibutuhkan pula padanya waktu  yang cukup supaya terpenuhinya segala prasyarat, kondisi dan elemen – elemen penentu lainnya dalam mencapai janji Ilahi tersebut. Maka bagi orang – orang mukmin harus terus melanjutkan segala usaha dan konsisten dalam melaksanakan tanggung jawab mereka, serta tidak perlu dihiraukan lagi bagi mereka penghitungan waktu dalam pencapaian hasil atau terburu-buru untuk mendapatkannya.

Janji Ilahi yang mana diisyarahkan didalam ayat berikut adalah ayat-ayat yang turun di Madinah, Ayat-ayat lain juga yang menyebutkan masalah janji Ilahi ini  yang diawali turunnya di Mekkah[1], seperti yang dikandung oleh ayat-ayat dalam firman-Nya ta'ala : [Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi](Al-Qishah:5-6), Orang-orang Muslim pada saat itu sangat sedikit jumlahnya dan kondisi ekonomi mereka yang mengkhawatirkan, dilain hal kaum kafir Quraish selalu mengintai, mengejar, menyiksa, mengepung dan menyita uang mereka, serta membunuh mereka [Dan ingatlah ketika kamu (para Muhajirin) masih (berjumlah) sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah), dan kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Dia memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki yang baik agar kamu bersyukur]. Berdasarkan penjelasan tersebut, janji Allah Swt kepada orang-orang mukmin meliputi beberapa hal berikut :

1-     Kekuasaan di muka bumi akan berada ditangan orang-orang mukmin saleh yang selalu berusaha dalam mempersiapkan sumber daya materi dan maknawi, yang mana dengan hal itu mereka bisa memakmurkan bumi dan seisinya, serta bisa memberikan kehidupan yang layak bagi seluruh umat manusia.

2-     Kedaulatan agama, yang mana Allah Swt meridoi mereka dengan agama itu yakni Islam, serta adanya unsur ketundukan yang ditujukan hanya kepada Allah Swt :  [dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu] (Al-Maidah:3). Kedaulatan agama dicapai dengan keteguhan dan ketabahan yang tertancap didalam hati dan jiwa, dan juga kepemilikan orang-orang mukmin dalam wilayah kekuasaan dan kedaulatan atas sistem, hukum dan konstitusi yang ditetapkan oleh manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

3-     Kemerdekaan dalam beriman pada suatu keyakinan yang benar, melaksanakan ibadah yang ikhlas untuk Allah Swt semata, menyingkirkan segala unsur kemusyrikan, baik itu berupa patung dari kayu ataupun berupa manusia atau para tagut atau  hawa nafsu atau fanatisme berlebihan atau tradisi yang menyimpang, disertai dengan keamanan untuk hidup dan beribadah, hilangnya ketakutan, sirnanya segala tekanan, ancaman dan terorisme serta dapat terhindar dari pengaruh syubhat dan kesesatan.

Hal-hal tersebut merupakan janji Allah Swt di dunia adapun di akhirat, maka Allah Swt Mengabarkan mengenai janji-nya dengan firmannya   [Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberikan tempat ini kepada kami sedang kami (diperkenankan) menempati surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka (surga itulah) sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.](Az-Zumar: 74).

            Akan tetapi janji Ilahi seperti hal-hal yang telah disebutkan diatas, tidak akan tercapai dengan hanya mengaku dirinya telah beriman, atau mencukupkan dirinya dalam beribadah dan melaksanakan syiar-syiar agama secara lahiriahnya saja tanpa dibarengi dengan usaha yang aktif dengan penuh kesungguhan dan ketekunan serta adanya pergerakan yang  didasari dengan metode yang benar dan sempurna dalam segala bidang kehidupan oleh sebab itu, kita memerlukan adanya Al-Marja‘ AD-Dīni yang haq sebagai rujukan dalam segala bidang kehidupan sampai pada hal-hal yang paling rinci sekalipun selain itu, mereka adalah rujukan inti dalam segala dimensi kehidupan manusia, perilaku bahkan dalam permasalahan-permasalahan dalam mempertimbangkan hal-hal yang baik dan buruk, rasa ,emosi serta kecenderungan, maka Allah Yang Maha Kuasa menjadikan pandangan seorang Marja‘ tersebut adalah pandangan-Nya dan menyatukan tujuannya dengan-Nya untuk mencapai keridhoan-Nya dan menghindari dirinya dari segala perbuatan maksiat kepada-Nya dan menjauhkan dirinya dari amarah-Nya. Jadi kalau kita merujuk pada Alquran, banyak ayat yang menyebutkan kalimat "minkum" (sebagian dari kalian) tidak "kullukum" (seluruh dari kalian), dan penyebutan sebagian dari kalian untuk orang-orang yang memang telah memenuhi sifat-sifat tadi.

            Adapun seorang  yang menisbatkan dirinya sebagai orang Islam, atau bahkan sebagai orang yang memeluk mazhab ahlubait nabi saww, dan mungkin pula dia selalu mendirikan salat, serta ikut dalam menghidupkan syiar-syiar agama, akan tetapi mereka masih menzalimi manusia lainnya, melanggar hak-hak mereka, tidak melaksanakan amar makruf dan nahi munkar, tidak melaksanakan hukum-hukum Allah Swt dalam segala permasalahan dan dimensi kehidupannya, maka janji Ilahi tidak akan meliputi orang tersebut karena janji Ilahi itu, seperti yang disebutkan didalam ayat Alquran hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dan melaksanakan amal saleh, serta saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran [Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu] (Al-Hujurat:14).

            Diriwayatkan dari Nabi Akram saww, ketika Nabi saww ada didalam sebuah majelis bersama sahabat-sahabatnya, kemudian datanglah khabar kepada salahsatu dari mereka, bahwa istrinya telah melahirkan seorang anak perempuan, berubahlah wajah orang tersebut, maka nabi saww bertanya mengenainya : apa yang telah menimpanya (sehingga berubah raut mukanya), dia menjawab:  aku menemui sang istri, dimana dia sedang dalam kondisi akan melahirkan, kemudian istriku memberitahukanku bahwa dia telah melahirkan seorang anak perempuan, kemudian nabi saww bertanya kepadanya: sudah berapa lama anda memeluk islam? dia menjawab: tujuh belas tahun, Nabi saww bersabda : selama ini anda berislam tetapi iman belum masuk pada hati anda[2].

            Orang tersebut, walaupun dia bagian dari sahabat yang terdahulu masuk islam dan termasuk dari kalangan sahabat yang berhijrah, yang mana dia telah banyak mengalami segala peristiwa yang berbahaya dan kesulitan didalam perjalanan hidupnya. Akan tetapi, dengan segala apa yang telah dialaminya belum juga bersemai keimanan didalam hatinya walaupun secara zahir dia termasuk orang mukmin.

Saudara dan saudari yang terkasih:

            Sesungguhnya kepemimpinan dan kedaulatan ini tidak harus selalui disertai dengan pencapaian kekuasaan pemerintahan, karena pemerintahan adalah bagian dari elemen pembantu untuk mencapai tujuan yang luhur, yakni sebagai perantara, bukan tujuan akhir, dan pemerintahan merupakan contoh dari unsur kekuatan, yang mana Allah Swt telah memerintahkan kepada kita untuk mempersiapkan bangunannya   [Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan](Al-Anfal:60).

            Maka yang perlu diperhatikan dalam mencapai janji Ilahi adalah apa-apa yang telah disebutkan diatas didalam ayat karimah yakni beriman dan beramal saleh. Dalam hal ini, meskipun Sayyidah Zahra as dan para Imam Maksum as selama kehidupan mereka selalu dalam kondisi yang sangat terzalimi, akan tetapi mereka secara pasti termasuk orang-orang yang dimaksud didalam ayat karimah yang akan mendapatkan janji ilahi tersebut. Nabi saww telah menegaskan secara eksplisit dan sangat jelas mengenai hakikat tersebut, ketika nabi saww mendekati waktu ajalnya, beliau saww mengumpulkan ahlulbaitnya as seraya bersabda:  ((Kalian semua orang-orang yang tertindas setelahku)), kalimat tersebut  mengandung arti bahwa "kalian" (ahlulbait as) yang dimaksud dengan janji ilahi tersebut adalah orang-orang yang terzalimi dalam masalah kepemimpinan dan kedaulatan serta perihal pewarisan kekuasaan di bumi ini, walaupun janji ilahi itu akan segera didapatkan oleh cucu mereka Imam Mahdi as Al-Mau‘ud (semoga Allah mempercepat kemunculannya). Amirulmukminin as berkata pula pada sebagian sabdanya :((Kami adalah yang dijanjikan oleh Allah Swt yang mana Dia Swt berfirman : [Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan](An-Nur:55)))[3].

                        As-Ṣadiqatuṭṭāhirah Fatimah Zahra as adalah wanita yang secara pasti mendapatkan janji Ilahi tersebut, walaupun beliau as secara lahiriahnya adalah wanita yang tertindas dan terzalimi, hak-hak nya yang terampas, hak suami tercintanya yang terbelenggu, tidak ada penolong dan pendukung, dan beliau as menghadapi tekanan dari pihak penguasa yang memiliki kekuatan tentara dan senjata, serta pasukan yang siap melakukan segalanya tanpa penolakan sedikitpun, akan tetapi Sayyidah Zahra as menghadapi mereka dengan keberanian, konsistensi, dan kepercayaan diri, serta keyakinan dalam mendapatkan janji Ilahi tersebut, dengan sabdanya: ((Dan saya membawakan bagi kalian kabar baik dengan pedang terhunus, yang menumbangkan semua hal, termasuk tirani dan kediktatoran penindas, pedang itu akan memusnahkan rampasan kalian yang kalian kumpulkan dalam keadaan tak berharga, dan mengambil keberadaan kelompok kalian sepertihalnya hasil panen yang ditunai, Jadi pada saat itu kalian akan menyesal dan menyesal! Tetapi kesempatan telah berlalu, dan cakrawala telah menjadi gelap [Apa kami akan memaksa kamu untuk menerimanya, padahal kamu tidak menyukainya?](Hud:28)))[4].

                        Kalimat yang diungkapkan Sayyidah Zahra as bukanlah seperti bahasa orang-orang yang terbelenggu dan lemah, tetapi merupakan bahasa optimisme yang mengandung keyakinan akan sebuah kemenangan, dan melihat kekalahan yang pasti terjadi dari pihak mata lawan-lawannya, serta memperingatkan mereka akan konsekuensi yang telah diperbuat dan nasib buruk yang akan dirasakan.

                        Kepercayaan diri dan keyakinan akan janji Ilahi tersebut diwariskan kepada putri tercintanya Zainab as, ketika berhadapan dengan Yazid yang lalim dan terlaknat, - dimana ketika sampainya rombongan keluarga  Imam Husein as di majelis Yazid – dia berkhayal telah mendapatkan kemenangan - dengan syahidnya Imam Husein as - , Zainab as berkata: ((Maka tipulah dengan segala tipuanmu, maksimalkan usaha, kuatkan kesungguhanmu yang kamu inginkan, demi Allah, kamu tak akan mampu menghapus nama kami, kecintaan orang-orang kepada kami, kehormatan kami, dan mematikan wahyu Allah Swt yang datang kepada keluarga kami, dan tidak pula kamu mengetahui ajal kami, maka janganlah menonjolkan apa-apa yang bisa memalukanmu, lalu apakah apa yang ada dalam pikiranmu itu hanyalah kebingungan dan penentangan saja, hari-harimu yang tersisa hanyalah beberapa saat saja, dan apa-apa yang kamu kumpulkan di dunia ini hanyalah kesirnaan saja, maka tidak ada yang tersisa untukmu kecuali cemoohan dan rasa malu di dunia ini, dan disuatu hari dimana seorang akan menyeru seruan untukmu [Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang yang zalim](Hud:18)))[5].

           

Wahai saudara dan saudari sekalian :

            Sesungguhnya kita telah melihat dengan jelas sebagian  tanda-tanda tercapainya janji Ilahi ini dengan tampilnya agama yang Allah Swt ridoi ini di berbagai bidang sistem yang disepakati dan direncanakan oleh manusia, dan adanya kemampuan, kekuatan orang-orang mukmin yang saleh dalam mengambil peran serta mereka untuk memakmurkan bumi dalam penghidupan yang bermanfaat bagi keberlangsungan keberadaan manusia seluruhnya, serta dapat menjalankan ibadah dalam jalur yang benar dan dalam naungan hidayah. Dari tanda-tanda tersebut adalah :

1-     Sampainya seruan ahlulbait as ke seluruh umat di dunia ini, sehingga mereka bisa mengenal asas-asas dan prinsip-prinsip kemanusiaan yang luhur – yang mana hal ini diajarkan oleh ahlulbait as - yang ingin mereka bangun, dengan keinginan tersebut, penerimaan dan kecenderungan yang luas dan semakin bertambah dari berbagai macam bangsa terhadap mazhab yang penuh dengan barakah ini.

2-     Meningkatnya semangat keberanian dan pengorbanan dijalan Allah Swt, dan kesediaan dirinya untuk melindungi tempat-tempat suci, memiliki  inisiatif yang kuat, meningkatnya rasa tanggung jawab dalam membantu kaum mustaḍ‘afīn (orang lemah). Semua hal ini telah tercermin dalam segala operasi militer yang dilakukan oleh angkatan bersenjata kita dari berbagai cabang-cabangnya dan juga perjuangan para pahlawan Hasyd Sya‘bi dan konvoi dukungan logistik terutama dalam pertempuran baru-baru ini di Mosul, di mana para pemimpin militer dari negara terkuat sekalipun di dunia ini mengakui bahwa pertempuran tersebut sangatlah sulit untuk bisa berhasil bagi pasukan mana pun di masa kini, karena perjuangan tersebut dilandasi dengan keluhuran budi, ketinggian akhlak dan moralitas serta pengorbanan bagi semua umat manusia tanpa memandang agama, sekte, dan etnis.

3-      Tumbuhnya kesadaran, dan kebangkitan umat, serta kepedulian akan adanya tantangan dalam menempuh perjalanan hidup serta pemenuhan kebutuhannya.

4-     Munculnya tanda-tanda yang menunjukkan lemahnya kekuatan, timbulnya atrofi dan disintegrasi pada negara-negara zalim dan arogan, serta meningkatnya permasalahan yang sulit untuk mereka atasi sehingga dengan kondisi demikian, mereka berusaha untuk menghindari segala permasalahan tersebut dengan melemparkannya ke luar negeri.

 

Wahai orang-orang mukmin :

Supaya kita bisa berkontribusi dan berperan serta aktif dalam mencapai dan menyempurnakan janji ilahi ini dengan kemunculan Juru selamat umat manusia Baqiatullah fiarḍih dan Hujjah-Nya bagi seluruh makhluk-Nya yakni Imam kita Mahdi Al-Mau‘ūd (arwāhuna lahulfidā’), kita harus bersungguh-sungguh melakukan yang terbaik dalam melanggengkan dan memperkuat tanda-tanda yang telah disebutkan sebelumnya. Ada ayat Alquran lainnya yang menyebutkan sifat-sifat dan tindakan orang-orang yang Allah Swt memberi kedudukan kepada mereka di muka bumi ini, Allah Swt berfirman : [(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.](Al-Hajj:41).

Kita juga harus berusaha untuk menghindari semua yang menghalangi gerakan yang penuh berkah ini dalam rangka menuju kesempurnaan, seperti sikap ketidaktaatan terhadap aturan, bercerai berai, berpecah belah, konflik, ikut dalam kebatilan, mengikuti panggilan hawa nafsu dan godaan yang akan menghalangi gerakan ynag diberkati ini menuju integrasi umat. Waspadalah terhadap  keberadaan makar musuh yang jahat dan bahaya dari makar tersebut, sebab musuh itu banyak jumlahnya, berbahaya dan kompleks, tetapi bagi kepemimpinan yang bijak dan orang-orang yang berwawasan yang luas, makar musuh apapun akan mudah terlihat dan tidak akan tersembunyi dihadapan mereka. Penghalang-penghalang keberhasilan tersebut bisa dimulai dengan tersebarnya wujud kefasikan, kerusakan moral  dan kerusakan-kerusakan lainnya, menanggalkan identitas aqidah dan akhlak dari diri orang muslim sehingga mereka malu untuk menonjolkan identitasnya sebagai seorang muslim dan menghindari dakwah pada agama dan keluhuran ajaran, sampai hancurnya jiwa seorang muslim dengan mengikuti dan meleburkan dirinya dengan pihak dan makar musuh[6].

Hal-hal itulah, yang mana Rasulullah saww selalu mememperingatkan umatnya akan bahayanya, seperti yang beliau saww sabdakan: ((Apa yang bisa kalian lakukan, jika wanita-wanita kalian telah melakukan kefasadan, pemuda-pemuda kalian telah berbuat kefasikan dan tidak melaksanakan amar makruf nahi munkar? Kemudian dikatakan kepada rasul saww: wahai rasulullah saww? Apakah hal-hal tersebut akan terjadi? Rasul saww  menjawab: ya, bahkan lebih buruk dari itu, lalu apa yang bisa kalian lakukan, jikalau kalian melihat hal-hal yang makruf menjadi munkar dan hal-hal yang munkar menjadi makruf?))[7].

Tantangan-tantangan yang besar ini menjadikan tanggungjawab kita lebih bertambah, maka sudah selarasnya orang-orang mukmin mempersiapkan dirinya dalam mencapai janji Ilahi tersebut dengan kesungguhan yang terus-menerus, tekad yang kuat, kekuatan yang menancap, serta usaha yang tak terhingga dengan bekerja secara konsisten untuk melanjutkan visi dan misi ini, sampai tercapainya janji Ilahi yang kita cita-citakan, dengan izin Allah [Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.](Muhammad:7), [Mereka memandang (azab) itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi)](Al-Ma‘ārij:6-7).

 



[1]Seperti firman Allah Swt : [Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuzh), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.](Al-Anbiya’:105) dan firman-Nya : [Dan sungguh, janji Kami telah tetap bagi hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) mereka itu pasti akan mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang.](As-Saffar:171-173).

[2]Hadits yang diriwayatkan didalam sumber-sumber hadits, seperti kitab Wasailusysyi‘ah: 15/101, hadits ke-2, akan tetapi keterangan akhir tidak kami temukan sepanjang penelitian kami.

[3]Nahjulbalāghah, dari nasihat Amirulmukminin as kepada Umar bin Khaṭṭāb, ketika dia meminta pendapat dari Imam as dalam rencana penyerangan negeri parsia.

[4]Al-Ihtijāj liṭṭabarsī: 1/140.

[5]Bisa merujuk pada sumber-sumber khutbah didalam Kitab As-Sahīh Min Maqtalin Sayyid As-Syuhadā’ Wa Aṣhābihi :1125.

[6]Kami mengutip disini contoh "apa-apa yang ingin mereka lakukan", dari pembacaan dan penerjemahan salah satu saudara kita – dia adalah orang asing yang berasal dari Irak dan tinggal di Belanda yang bernama Aziz Difai – terhadap  buku (Mahw Al-‘Irāq: Sebuah rencana terpadu untuk mencabut kekuatan Irak dan menanam kekuatan lainnya) , dia menggambarkan kitab tersebut sebagai sebuah aplikasi dari buku sebelumnya yang berjudul (Fahm As-Syar: Pelajaran dari Bosnia). Dari suatu istilah (pemusnahan kejahatan) muncullah suatu sebuah ibarat ((Penghancuran semua nilai-nilai solidaritas dan hubungan baik dengan pihak tetangga dan perusakan bangunan kehidupan utuk pemukiman, pembangunan sistem penghambat dalam pengadaan kebutuhan materi, psikologi dan agama serta jiwa yang dikuasai dengan kecurigaan dan ketakutan terhadap pihak lain, dan yang paling berbahaya adalah adanya perubahan standar dimana orang hina menjadi cerdas, dan orang yang mulia yang menjaga kesuciannya menjadi bodoh, hal itu terjadi karena dia tidak berpartisipasi dan tidak hidup bersama dalam kegiatan dan aktifitas sosial kemasyarakatan, dengan demikian sang "pencuri" akan dianggap orang benar sedangkan orang yang mulia dan jujur akan dianggap orang yang menyeleweng, dan lain-lain-lainnya yang saling kontradiksi dimana hal itu, akan mengacaukan sistem nilai-nilai akhlak dan politik  yang haq karena hal tersebut hanyalah untuk kebaikan pihak lawannya dengan melalui rencana yang terkoordinasi dari berbagai aksi dan tindakan yang bertujuan menghancurkan prinsip-prinsip dasar kemasyarakatan.

[7] Wasail As-Syi‘ah : Kitab Al-Amri bi Al-Ma‘rūf wa An-Nahyi ‘An Al-Munkari, bab :Al-Amru wa An-Nahyu wa Ma Yunāsibuhumā, bab 1, hadiṡ ke-12.